Tradisi Prosesi Pernikahan Tionghoa

confusianisme.blogspot.com

Pada era yang serba praktis dan pragmatis saat ini, banyak tradisi yang hilang tergerus zaman. Seperti halnya tradisi pernikahan adat Tionghoa. Semakin maraknya tawaran pernikahan yang lebih praktis, dan modern, kini menjadi pilihan calon pengantin di Indonesia. Padahal, pernikahan adalah sebuah momen sakral yang paling luar biasa dalam kehidupan manusia, dimana sarat dengan doa, harapan dan penghormatan.

Untuk melestarikan tradisi tersebut yang juga merupakan kekayaan budaya bangsa, kali ini Commagz akan menjabarkan tradisi yang biasa dijalani kedua mempelai dalam prosesi pernikahan adat Tionghoa. Dalam pernikahan Tionghoa, ada beberapa ritual yang harus dilakukan seperti meminang, membawa antaran pinangan, membawa hantaran kawin, tunangan, menjemput pengantin dan yang terakhir upacara pernikahannya sendiri.

Dimulai dari acara sanjit yang dilakukan beberapa hari sebelum resepsi. Sanjit merupakan seserahan dari pihak laki-laki pada pihak perempuan yang antara lain berisi koin emas, jamur, telur dan makanan khas Cina. Menurut tradisi, setiap barang yang dibawa untuk sanjit mempunyai arti tersendiri. Setelah proses lamaran (sanjit), pihak pengantin wanita juga harus melakukan sederet ritual, mulai dari menata kamar pengantin, menyalakan lilin beberapa hari menjelang pernikahan hingga tiga hari setelah pernikahan. Hal ini dipercaya bisa mengusir pengaruh buruk yang dapat mengacaukan jalannya prosesi pernikahan.

Yang unik, ada kepercayaan bahwa anak-anak diminta meloncat-loncat di atas ranjang pengantin. Selain untuk menguji kekuatan ranjang, tradisi ini dianggap bisa membuat pengantin cepat mendapat keturunan. Lalu, dilanjutkan dengan prosesi siraman. Diawali dengan sembahyang dan penghormatan kepada leluhur, kemudian barulah mempelai wanita dimandikan dengan air yang telah dibubuhi wewangian alami. Disusul dengan menyisir rambut atau chio thao sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh orang yang telah menikah dan memiliki keturunan.

Memasuki detik-detik penyambutan pengantin pria, mempelai wanita, dibimbing menuju meja makan yang telah tersaji 12 mangkuk yang masing-masing berisi satu jenis masakan yang memiliki rasa yang berbeda-beda. Ini melambangkan rasa berbeda dari suka-duka hidup berumah tangga yang harus dijalani dan dinikmati. Di lain sisi, mempelai pria yang telah mengenakan baju pengantin pastinya harus menjemput sang mempelai wanita. Acara penjemputan ke tempat mempelai wanita ini disebut temon.

Setelah pemberian hormat kepada orang tua, pengantin pria dengan pengantin wanita pun tak boleh bertemu di ruang tamu, namun langsung ke kamar pengantin. Dilanjutkan dengan pemberian bunga untuk pengantin wanita dan sebaliknya pengantin pria dipasangkan corsage oleh pengantin wanita. Keluar dari kamar pengantin, kedua mempelai menuju meja sembahyangan yang disebut meja sam kay. Dengan disaksikan orangtua dan sanak keluarga, kedua mempelai melakukan sembahyang sam kay sebagai persyaratan sahnya perkawinan mereka secara adat dan kepercayaan.

Sesuai tradisi Tionghoa, setelah prosesi pernikahan biasanya diadakan acara tea pai untuk memperkenalkan keluarga masing-masing dan menghormati orang tua. Selain berbagai prosesi tersbeut, melihat hari, jam dan tanggal baik merupakan salah satu hal yang wajib diperhitungkan bagi tradisi adat China. Keseluruhan prosesi pernikahan Tionghoa saat ini sudah lebih singkat dan dibuat lebih modern. Tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat telah menyederhanakan bagian dari adat tersebut.

This entry was posted in Pecinan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s