Sejarah Film Dokumenter

film.com

Film Dokumenter merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian nyata atau benar – benar terjadi, hak tersebut yang membedakan antara film dokumenter dengan film fiksi (cerita). Film dokumenter selalu berubah sejalan dengan perkembangannya. Sejak film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk sederhana menjadi semakin kompleks dan bervariasi. Dibantu dengan teknologi kamera dan audio menjadi peran penting bagi perkembangan film dokumenter

Era Film Bisu
Para pembuat film di Amerika dan Perancis telah telah mencoba dan mendokumentasikan apa saja yang ada disekeliling mereka dengan alat hasil temuannya. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi. Awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui adalah film Nanook of the north (1922) karya Robert Flaherty. filmnya yang menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook, dia menghabiskan waktunya hingga enambelas bulan untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta keluarganya. kegiatan yang didokumentasikan seperti berburu, tidur, makan, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film lagi yang berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses film Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “ducumentery” , dari ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Peran pentingnya untuk awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan menobatkan Flaherty sebagai Bapak Film Dokumenter.

Era Menjelang dan Masa Perang Dunia
Di era 30-an ini film dokumenter semakin berkembang, munculnya teknologi suara semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the will (1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, selain itu Riefensthahl juga memproduksi film olympia (1936) yang berisi dokumentasi tentang olimpiade di Berlin. Masa Perang Dunia kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah amerika bahkan meminta bantuan industri film Holywood untuk memproduksi film – film propaganda yang mendukung perang.

Era Pasca Perang Dunia
Setelah pasca Perang Duni Kedua, film dokumenter mengalami banyak perubahan yang signifikan. Film dokuenter semakin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional.

Direct Cinema
Perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan mobil, jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar (tanpa diatur), minim penggunaan narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri (interview).

Warisan Direct Cinema dan Perkembangannya Hingga Kini
Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter. Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah “rockumentaries” dokumentasi musik rock yang lebih beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka. Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970) garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film dokumentasi sejenis berikutnya.

This entry was posted in Info Unik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s